Alamat
sebrang KONI, Jl. Gelatik Raya No.107, Depok Jaya, Kec. Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat 16432
Jam Kerja
Senin - Jumat: 08.00 - 17.00
Sabtu: 08.00 - 12.00
Alamat
sebrang KONI, Jl. Gelatik Raya No.107, Depok Jaya, Kec. Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat 16432
Jam Kerja
Senin - Jumat: 08.00 - 17.00
Sabtu: 08.00 - 12.00

Pernah dengar istilah HIRARC dan JSA, tapi masih bingung apa bedanya? Jangan khawatir, kamu tidak sendiri. Banyak profesional, khususnya yang baru berkecimpung di dunia Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), sering keliru soal perbedaan HIRARC dan JSA.
Padahal, baik HIRARC maupun JSA, sama-sama penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan minim risiko. Untuk itu, untuk memahami tentang perbedaan HIRARC dan JSA, kamu bisa simak artikel ini sampai selesai, ya!
HIRARC merupakan singkatan dari Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control yang artinya sebuah metode sistematis yang digunakan untuk mengidentifikasi berbagai potensi bahaya yang mungkin terjadi di tempat kerja. Kemudian menilai tingkat risikonya, dan menentukan cara terbaik untuk mengendalikan atau menghilangkan risiko tersebut.
Sementara itu, JSA atau Job Safety Analysis adalah metode yang digunakan untuk memecah suatu pekerjaan menjadi beberapa langkah kecil, lalu menganalisis setiap langkah kerja tersebut untuk mengidentifikasi potensi bahaya dan menentukan tindakan pengendalian yang tepat. JSA lebih terfokus pada aktivitas pekerjaan harian, langkah demi langkah, sehingga lebih praktis untuk pekerjaan teknis atau lapangan.
Jadi, secara sederhana, HIRARC lebih luas cakupannya, mencakup seluruh potensi bahaya dan risiko di area kerja. Sementara itu, JSA lebih spesifik, fokus ke proses kerja tertentu yang dijabarkan satu per satu.
Agar dalam prosesnya, kamu tidak salah langkah, pahami beberapa komponen HIRARC saling berkesinambungan berikut ini:
Tahap ini bertujuan untuk mengenali berbagai sumber bahaya yang bisa timbul dari aktivitas kerja, peralatan, bahan kimia, atau lingkungan. Identifikasi bahaya dilakukan dengan observasi langsung, wawancara dengan pekerja, maupun analisis dokumentasi sebelumnya.
Setelah bahaya dikenali, langkah selanjutnya adalah mengevaluasi tingkat risikonya berdasarkan dua hal: kemungkinan terjadinya dan tingkat keparahan dampaknya. Penilaian risiko biasanya menghasilkan skor atau peringkat yang memudahkan manajemen dalam menentukan prioritas penanganan
Ini adalah tahap aksi, di mana tindakan pengendalian dilakukan untuk menghilangkan atau meminimalkan risiko. Pengendalian bisa bersifat teknis (engineering), administratif, hingga penggunaan alat pelindung diri (APD). Prinsipnya, semakin ke atas dalam hirarki pengendalian, semakin efektif metode tersebut.
Sementara itu, JSA memiliki struktur yang lebih operasional dan berfokus pada pekerjaan tertentu. Berikut langkah-langkahnya:
Tidak semua pekerjaan perlu dibuat JSA-nya. Biasanya diprioritaskan pekerjaan dengan risiko tinggi, pekerjaan baru, atau yang pernah menyebabkan insiden sebelumnya.
Langkah kerja dipecah menjadi beberapa tahap kecil yang bisa diamati dan dianalisis secara detail. Misalnya, pekerjaan “memotong plat baja” bisa dipecah menjadi mengambil plat, mengatur posisi, menyalakan alat pemotong, dan sebagainya.
Tiap langkah kerja dianalisis untuk menemukan potensi bahaya. Apakah ada kemungkinan terkena benda tajam, terpeleset, atau terpapar bahan kimia? Biasanya, dalam proses identifikasi ini menggunakan daftar tabel yang isinya ada bahaya fisik, kimia, biologi, ergonomi, mekanis, elektrik, hingga psikososial.
Setelah bahaya dikenali, tim kerja akan menentukan tindakan pengendalian. Ini bisa berupa prosedur kerja aman, alat bantu, APD, atau pelatihan tambahan. Proses ini bisa menggunakan prinsip hirarki pengendalian yang dimulai dari paling efektif sampai yang tidak efektif, yakni primary controls, secondary controls, tertiary controls, dan APD.
Setelah dokumen JSA disusun, pekerja diharapkan mengikuti setiap langkah dan pengendalian yang telah dirancang. Monitoring dan evaluasi tetap diperlukan untuk memastikan penerapannya berjalan sesuai rencana.
Baca juga : Penerapan Lebih Lanjut JSA!
Baik HIRARC maupun JSA sebenarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan produktif. Berikut beberapa tujuan spesifik dari masing-masing metode:
Dari tujuan di atas, kamu bisa lebih mudah dalam memahami perbedaan hIRARC dan JSA. Pada intinya, HIRARC menjadi metode yang memiliki cakupan lebih luas, mulai dari identifikasi sampai dengan pengendalian risiko di area kerja. Beda halnya dengan JSA, yang fokusnya untuk mengetahui setiap jenis pekerjaan.
Perbedaan Format Dokumen antara HIRARC dan JSA (gambar)
Setelah mengetahui tentang perbedaan HIRARC dan JSA, kamu juga wajib paham soal kelebihan serta kekurangannya. Ini penting, agar nanti kamu bisa mengimplementasikan kedua metode dengan tepat. Apakah harus menggunakan HIRARC, atau JSA? Atau justru menggunakan keduanya.
Nah, berikut ini tabel perbandingan kelebihan dan kekurangan HIRACR serta JSA:
| Aspek | HIRARC | JSA |
| Kelebihan | Menyediakan gambaran menyeluruh tentang risiko di tempat kerja | Analisis sangat detail per langkah kerja |
| Cocok untuk perencanaan jangka panjang | Lebih praktis untuk pekerjaan lapangan | |
| Berguna dalam pengembangan sistem manajemen K3 | Cocok untuk pekerjaan teknis & berisiko tinggi | |
| Kekurangan | Bisa terlalu umum jika tidak dilakukan mendalam | Butuh waktu lebih banyak untuk tiap pekerjaan |
| Kurang spesifik terhadap langkah kerja tertentu | Perlu diperbarui setiap ada perubahan aktivitas kerja |
Pada dasarnya, perbedaan HIRARC dan JSA hanya pada komponen atau langkah-langkah penerapannya. Tapi, untuk tujuannya hampir sama, yakni mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan mematuhi standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Jadi, keduanya punya peran penting dan tidak bisa saling menggantikan, melainkan saling melengkapi dalam kepatuhan regulasi.
Untuk itu, pastikan perusahaan kamu sudah menerapkan metode HIRARC dan JSA dalam mencegah kecelakaan kerja. Kalau belum, kamu bisa bekerja sama dengan PT Mandiri Maha Daya untuk memberikan pelatihan K3 kepada seluruh pekerja agar dapat meningkatkan kesadaran terhadap standar keselamatan melalui implementasi metode HIRARC dan JSA.
Dengan pengalaman hampir satu dekade, PT Mandiri Maha Daya telah berhasil membantu ribuan perusahaan untuk memberikan pelatihan K3 dan mencegah kecelakaan kerja. Melalui pelatihan ini, diharapkan bisa memberikan keterampilan dan kompetensi kepada pekerja untuk bekerja dengan prosedur yang aman.